Tingkatkan Kepedulian Pada Lingkungan
Pencemaran Udara Dari Polusi Pabrik Kelapa Sawit
PENDAHULUAN
Udara merupakan bagian yang sangat penting dan dibutuhkan di
kehidupan manusia, karena di udara terdapat partikel-partikel yang salah
satunya adalah oksigen (O2) yang membuat manusia bisa bernafas dan
dapat memberlangsungkan hidupnya. Udara
memang tidak bisa dilihat dengan kasat mata, tidak berbau dan tidak berasa.
Kita meyakini adanya udara ketika ada angin yang berhembus atau adanya benda
yang bergerak disebabkan oleh angin. Tetapi pada zaman modern ini udara yang
sangat kita penting dan sangat kita butuhkan untuk kehidupan manusia sebagian
besar udah tercemari. Pencemaran udara tersebut memiliki sumber yang
bermacam-macam. Beberapa bagian yang menyebabkan tercemarnya udara yaitu
diakibatkan oleh bencana alam seperti gunung meletus, ada pula yang disebabkan
oleh kebakaran hutan, pembakaran sampah, asap kendaraan bermotor dan asap yang
berasal dari pabrik atau limbah pabrik yang semuanya ini akan memberi dampak bagi
kenyamanan hidup manusia.
LANDASAN TEORI
Pencemaran Udara
Pencemaran udara adalah masukknya komponen lain ke dalam udara,
baik disebabkan oleh kegiatan manusia secara langsung atau tidak langsung
maupun akibat proses alam sehingga kualitas udara turun sampai ke tingkatan
tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat lagi
berfungsi sesuai peruntukkannya (Chandra, 2006).
Pencemaran udara
juga dapat diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat asing di dalam udara
yang menyebabkan terjadinya perubahan komposisi udara dari susunan atau keadaan
normalnya. Kehadiran bahan atau zat asing tersebut di dalam udara dalam jangka
waktu tertentu akan dapat menimbulkan gangguan pada kehidupan manusia, hewasn,
maupun tumbuhan (Wardhana, 2004).
Sumber Pencemar Udara
Menurut
Sugiarti (2009) secara umum terdapat 2 sumber pencemaran udara yaitu pencemaran
akibat sumber alamiah (natural sources), seperti letusan gunung berapi, dan
yang berasal dari kegiatan manusia (antropogenic sources), seperti yang berasal
dari transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain. Di Indonesia sekarang ini
kurang lebih 70% pencemaran udara di sebabkan emisi kendaraan bermotor yang
mengeluarkan zat-zat berbahaya yang dapat menimbulkan dampak negative, baik
terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan, seperti timbal/timah
hitam (Pb) Kendaraan bermotor menyumbang hampir 100% timbal.
Pencemaran udara dapat terjadi dimana-mana, misalnya di dalam
rumah, sekolah, dan kantor. Pencemaran ini sering disebut pencemaran dalam
ruangan (indoor pollution). Sementara itu pencemaran di luar ruangan (outdoor
pollution) berasal dari emisi kendaraan bermotor, industri, perkapalan, dan
proses alami oleh makhluk hidup. Sumber pencemar udara dapat diklasifikasikan
menjadi sumber diam dan sumber bergerak. Sumber diam terdiri dari pembangkit
listrik, industri dan rumah tangga. Sedangkan sumber bergerak adalah aktifitas
lalu lintas kendaraan bermotor dan tranportasi laut. Dari data BPS tahun 1999,
di beberapa propinsi terutama di kota-kota besar seperti Medan, Surabaya dan
Jakarta, emisi kendaraan bermotor merupakan kontribusi terbesar terhadap
konsentrasi CO di udara yang jumlahnya lebih dari 50%. Penurunan kualitas udara
yang terus terjadi selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kita bahwa betapa
pentingnya digalakkan usaha-usaha pengurangan emisi ini.
Menurut Wardhana (dalam Sugiarti 2009) di dunia dikenal zat
pencemar udara utama yang berasal dari kegiatan manusia berupa gas buangan
hasil pembakaran bahan bakar fosil dan industri. Partikel-partil yang ada dalam
pencemaran udara tersebut adalah
a.
Karbon Monoksida(CO)
Asap kendaraan merupakan sumber utama bagi karbon monoksida di
berbagai perkotaan. Data mengungkapkan bahwa 60% pencemaran udara di Jakarta
disebabkan karena benda bergerak atau transportasi umum yang berbahan bakar
solar terutama berasal dari Metromini.
b. Sulfur
Emisi sulfur terbentuk dari fungsi kandungan sulfur dalam bahan
bakar, selain itu kandungan sulfur dalam pelumas, juga menjadi penyebab
terbentuknya sulfur emisi.
c. Partikular Matter
Partikel debu dalam emisi gas buang terdiri dari bermacam-macam
komponen. Bukan hanya berbentuk padatan tapi juga berbentuk cairan yang
mengendap dalam partikel debu. Partike-partikel lautan banyak masuk ke atmosfir
sebagai hasil penyerapan dari gelembung-gelembung air dan garam-garam
mengkristal membentuk aerosol garam laut yang bersusunan kimiawi air laut.
d. Gas Rumah Kaca
Gas rumah kaca merupakan suatu istilah yang tepat digunakan pada
gas-gas yang menyebabkan peningkatan suhu bumi. Gas-gas ini terdapat diudara
membentuk suatu perisai yang membendung panas bumi yang ditimbulkan oleh
aktivitas manusia dan alam itu sendiri, tetapi panas bumi ini tidak dapat lepas
ke udara hingga batas tertinggi sebab adanya gas-gas ini yang membendungnya
sehingga panas bumi terperangkap dan terpantul kembali ke bumi sehingga bumi
semakin tinggi suhunya. Semua gas-gas rumah kaca ini merupakan hasil buang
pembakaran bahan bakar fosil dan aktivitas alam yang sampai saat ini sulit
dikendalikan sebab penggunaan bahan bakar fosil/minyak tetap me ningkat dengan
pesat.
Jenis Pencemaran Udara
Dilihat dari ciri fisik, bahan pencemar dapat berupa:
a.
Partikel (debu,
aerosol, timah hitam)
b.
Gas (CO, NOx,
SOx, H2S dan HC)
c.
Energi (suhu
dan kebisingan).
Berdasarkan dari kejadian, terbentuknya pencemar terdiri dari :
a.
Pencemar primer (yang diemisikan langsung dari
sumbernya)
b.
Pencemar
sekunder (yang terbentuk karena reaksi di udara antara berbagai zat)
b.Pola emisi akan menggolongkan pencemar dari sumber titik (point source), sumber garis
(line source ) dan sumber area (area
source). Dilihat secara kimiawi, banyak
sekali macam bahan pencemar tetapi yang biasanya menjadi perhatian adalah
pencemar utama (major air pollutans) yaitu golongan oksida karbon (CO, CO2) , oksida belerang (SO2, SO3) dan
oksida nitrogen (N2O, NO, NO3) senyawa hasil reaksi fotokimia, partikel (asap,
debu, asbestos, metal, minyak, garam sulfat), senyawa inorganik ( HF,
H2S,NH3,H2SO4,HNO3), hidrokarbon (CH4, C4H10) unsur radio aktif (titanium,
Radon), energi panas (suhu, kebisingan). Gas diudara dengan reaksi fotokimia
dapat membentuk bahan pencemar sekunder, misalnya peroxyl radikal dengan
oksigen akan membentuk ozon dan nitrogen dioksida berubah menjadi nitrogen
monoksida dengan oksigen dan sebagainya. Pemaparan terhadap manusia pada
umumnya melalui pernafasan dan cara penanggulangannya terutama dengan
mengurangi pembebasan bahan pencemar secara langsung keudara, misalnya dengan
menggunakan “ gas scrubber “, alat tambahan pada knalpot dan lain – lain.
Partikel dengan ukuran antara 0,01 – 5 μm merupakan sumber pencemar udara yang
utama karena keadaanya tidak terlihat secara nyata dan terus berada pada
atmosfer untuk waktu yang cukup lama. Dampak negatif dari bahan – bahan ini
biasanya berupa gangguan pada bahan – bahan bangunan, tanaman, hewan serta
manusia (Ratnani, 2008).
Dampak Pencemaran Udara
Polusi yang ditimbulkan dari senyawa-senyawa yang ada pada limbah
pabrik dan yang lainnya memiliki dampak pada kesehatan manusia dan daerah
sekitar. Dampak-dampak tersebut antara lain:
a.
Karbon
Monoksida (CO)
Karbon monoksida tidak memiliki warna, bau dan rasa sehingga sulit
untuk mengantisipasinya. Pada daerah perkotaan maupun di desa, karbon monoksida
banyak berasal dari asap kendaraan bermotor. dapat mengakibatkan turunnya berat
janin dan meningkatkan jumlah kematian bayi serta kerusakan otak. Selain itu
gas CO dapat mengikat hemoglobin darah mengganti posisi oksigen (COHb) bila
terhisap masuk ke paru-paru, mengakibatkan fungsi vital darah sebagai
pengangkut oksigen terganggu karena ikatan gas CO dengan hemoglobin darah lebih
kuat 140 kali dibandingkan dengan oksigen. Keracunan gas CO dapat ditandai dari
keadaan yang ringan berupa pusing, sakit kepala dan mual. Keadaan yang lebih berat:
menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovaskuler, serangan
jantung sampai pada kematian. Untuk menolong penderita kategori ringan yaitu
denhgan memberi kesempatan menghisap udara bersih(segar).
b.
Sulfur (SOx)
Akibat yang ditimbulkkan dari sulfur yang dapat mengganggu
kesehatan manusia adalah gangguan sistem pernafasan, karena gas SOx yang mudah
menjadi asam menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan dan saluran
pernafasan yang lain sampai ke paru-paru.
c.
Partikular
Matter
udara yang telah tercemar oleh partikel dapat menimbulkan berbagai
macam penyakit saluran pernapasan atas atau pneumokoniosis. Penyakit
pneomokoniosis bermacam-macam tergantung dari jenis partikel debu yang masuk ke
dalam paru-paru, dan jenis yang sering dijumpai di daerah yang memiliki banyak
kegiatan industri dan teknologi yatiu: silikosis yang disebabkan pencemara debu
silika SiO2, asbestosis merupakan pencemar debu atau serat asbes terurama dari
magnesium silikat, bisinosis penyakit yang disebabkan oleh debu kapas di udara,
dan antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu
batubara.
d.
Gas Rumah Kaca
lapisan ozon rusak, maka sifat ozon sebagai penyaring sinar ultra
violet tidak akan berfungsi lagi, sehingga sinar ultra violet yang tidak
tersaring oleh lapisan ozon akan terus ke bumi dan merusak kulit manusia
seperti iritasi dan kanker kulit (Sugiarti, 2009).
Tidak hanya memberikan dampak yang buruk pada manusia, pencemaran
udara juga memberikan dampak yang negatif pada tumbuhan. Hal tersebut terjadi
karena banyaknya faktor yang mempengaruhi, diantaranya adalah spesies tanaman,
usia tamanan, keseimbangan nutrisi. Gangguan yang terjadi dikarenakan kurangnya
keseimbangan nutri adalah terjadinya penurunan tingkatan kandung enzym.
Gangguan pada respon fisiologis berupa perubahan pada fotosintesa, sedangkan
secara visual terjadi adalah chlorosis (perusakan zat hijau berupa daun
menguning), flecking (daun bintik-bintik) dan reduced crop yield (penurunan
hasil panen) (Budiyono, 2001).
Pendekatan Komunitas
Defenisi Komunitas
Gemeinschaft sering diterjemahkan sebagai "komunitas." Ini mengacu
pada hubungan yang multidimensional dan dihargai dengan hak mereka sendiri,
tidak hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Bila Anda melakukan sesuatu
untuk seseorang atau menghabiskan waktu dengan seseorang hanya karena Anda
menilai orang itu dan hubungan Anda dengannya, itu adalah hubungan Gemeinschaft (Dalton, 2007).
Definisi komunitas dalam sosiologi dan psikologi komunitas
membedakan dua arti istilah: komunitas sebagai wilayah dan komunitas sebagai
kelompok relasional (Bernard, 1973; Bess, Fisher, Sonn, & Bishop, 2002).
- Locality-Based Community
Inilah
konsep tradisional dari komunitas. Ini termasuk blok kota, lingkungan sekitar,
kota kecil, kota, dan daerah pedesaan. Hubungan interpersonal ada di antara
anggota masyarakat (penghuni); Mereka didasarkan pada kedekatan geografis,
belum tentu pilihan. Ketika penduduk suatu wilayah berbagi rasa komunitas yang
kuat, individu sering mengidentifikasi diri mereka sendiri oleh wilayah mereka,
dan teman-teman sering menjadi tetangga.
2.
Relational
Community
Komunitas
ini didefinisikan oleh hubungan interpersonal dan rasa komunitas namun tidak
dibatasi oleh geografi. Kelompok diskusi internet adalah komunitas yang
benar-benar tanpa batas geografis. Kelompok bantuan timbal balik, klub
mahasiswa, dan kongregasi religius didefinisikan oleh ikatan relasional.
Meskipun relation community
hanya didasarkan pada persahabatan atau rekreasi (misal, liga olahraga,
sororities), banyak organisasi terikat oleh tugas atau misi yang sama. Tempat
kerja, kongregasi religius, organisasi kemasyarakatan, kamar dagang, serikat
pekerja, dan partai politik adalah contohnya.
Komunitas berbasis lokal dan relasional membentuk spektrum daripada
dikotomi. Banyak terutama komunitas relasional yang duduk di suatu tempat
(misal, universitas, kongregasi religius). Sebuah kelompok diskusi internet
dimana para anggotanya tidak pernah benar-benar bertemu satu sama lain dengan
jangkar tatap muka murni dari kutub relasional kontinum; sebuah kota atau
lingkungan mewakili tiang berbasis lokasi yang berlawanan (Dalton,2007).
Konsep Pencegahan
Untuk membahas
masalah polusi udara yang terdapat di bab i, di sini penulis memakai konsep
pencegahan untuk membahas masalah tersebut. Gerald Caplan dikenal sebagai individu yang
menggunakan istilah pencegahan dan menjadikannya bagian dari kamus kesehatan mental.Caplan
(dalam Dalton, 2007) membuat perbedaan diantara tiga tipe pencegahan yaitu:
Pencegahan primary intervensi
ini diberikan kepada seluruh individu ketika mereka tidak berada di posisi
mengetahui kebutuhannya atau distress.Tujuannya untuk mengurangi tingkat
terjadinya kasus baru (dari perspektif kesehatan publik, untuk mengurangi
insiden) dari gangguan.Pencegahan pertama turut andil dalam menurangi keadaan
berbahaya yang potensial sebelum menjadi lebih sulit ditangani.
Pencegahan secondary intervensi ini diberikan kepada individu yang menunjukkan tanda awal
gangguan atau masalah. Bentuk lain dari istilah ini adalah intervensi awal.
Konsep ini adalah tanda awal dugaan saat ini dari “beresiko”.Contoh pencegahan
kedua adalah program yang menargetkan anak-anak yang pemalu atau menarik diri,
yang mana mulai mengalami kesulitan akademik, atau orang dewasa yang mengalami
masalah dengan teman bekerjanya.
Pencegahan
kedua mensyaratkan beberapa metode untuk menentukan individu mana yang beresiko atau menunjukkan tanda awal gangguan.Memperbaiki metode identifikasi resiko menunjukkan area penting
pekerjaan dalam psikologi komunitas.
Pencegahan tertiary intervensi ini diberikan kepada individu yang memiliki gangguan
dengan maksud membatasi ketidakmampuan disebabkan oleh gangguan, mengurangi
intensitas dan durasi, dan dengan cara demikian mencegah terjadi kembali peristiwa
di masa mendatang atau komplikasi kacanduan.
PEMBAHASAN
Pencemaran
udara merupakan masalah yang memerlukan perhatian khusus, bukan hanya untuk
daerah di kota besar tetapi juga daerah pedesaan. Pencemaran udara yang ada
dapat berasal dari asap kendaraan bermotor, asap pabrik ataupun yang lain. Pencemaran udara akan terus
berlangsung seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi. Dengan semakin
berkembangnya kehidupan ekonomi, masyarakat akan semakin banyak menggunakan
bahan-bahan berteknologi tinggi yang dapat menimbulkan pencemaran udara seperti
motor dan mobil dan pembangun pabrik di mana-mana.
Secara
umum terdapat dua sumber pencemaran udara, yaitu pencemaran akibat sumber
alamiah (natural sources), seperti letusan gunung berapi, dan yang berasal dari
kegiatan manusia (antropogenic sources), seperti yang berasal dari
transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain. Berdasarkan pemaparan permasalahan
polusi udara dari PT.Sintong Abadi di atas terlihat bahwa masalah pencemaran
udara yang terjadi berasal dari kegiatan manusia, yaitu dari aktivitas yang
berada di dalam pabrik tersebut.
Polusi yang ditimbulkan dari pabrik
tersebut sangat mengganggu warga sekitar yang di pemukiman dan bahkan
mengganggu orang yang sedang berlalu lalang di jalinsum sekitar pabrik. Tidak
ada yang dapat dilakukan oleh warga untuk mengatasi polusi yang sudah
berlangsung kurang lebih tiga tahun tersebut, mereka hanya melakukan unjuk rasa
dahulunya dan sekarang ini mereka hanya menerima polusi tersebut walaupun
sangat mengganggu.
Dari polusi udara yang terjadi
penulis akan membahas dengan konsep prevention. Adapun
prevensi tersebut yaitu:
a.
Prevensi primary.
Pada prevensi primary, intervensi diberikan kepada seluruh
individu. Tujuannya untuk mengurangi tingkat terjadinya kasus baru (untuk
mengurangi insiden) dari gangguan. Prevensi primer perlu diberikan agar tidak
terjadi pencemaran udara lainnya. Prevensi primer ini tidak dapat lagi
digunakan untuk menangani kasus pencemaran udara yang terjadi di PT. Sintong
Abadi, dikarenakan prevensi ini akan diberikan pada semua individu yang belum
terkena masalah, sementara masalah yang terjadi di pabrik sudah meluas.
b.
Prevensi
secondary
Intervensi secondary ini diberikan kepada individu yang
menunjukkan tanda awal gangguan atau masalah. Bentuk lain dari istilah ini
adalah intervensi awal. Konsep ini adalah tanda awal dugaan saat ini dari
beresiko. Jadi intervensi pada tahap ini
diberikan pada individu yang telah tampak beresiko terkena masalah. Intervensi
ini dapat diberikan kepada warga setempat bahkan karyawan yang berada dalam
pabrik, karena polusi udara yang dihasilkan oleh pabrik tersebut mengandung
senyawa beracun yang dapat menggangu kesehatan warga. Adapun intervensi yang
dapat diberikan kepada warga yang berada di sekitar pabrik yaitu disarankan
untuk melakukan cek kesehatan secara rutin, agar warga bisa mengerti bagaimana
menjaga kesehatannya.
c.
Pencegahan tertiary intervensi ini diberikan kepada
individu yang memiliki gangguan dengan maksud membatasi ketidakmampuan
disebabkan oleh gangguan, mengurangi intensitas dan durasi, dan dengan cara
demikian mencegah terjadi kembali peristiwa di masa mendatang atau komplikasi
kacanduan. Intervensi tertiary diberikan agar tidak terjadi masalah baru.
Intervensi yang dapat diberikan pada PT. Sintong Abadi yaitu dengan kondisi
polusi udara yang sudah parah dan limbah cair yang sudah dialirkan melalui
pari-parit warga sampai ke perkebunan Sei Dadap tersebut diharapkan pihak
pabrik untuk mengurangi kuantitas produksi dari pabrik tersebut, agak tidak
terjadi peningkatan polusi dan peningkatan jumlah limbah cair yang dialirkan melalui
parit dan pihak pabrik diharapkan mengganti bahan bakar dalam pabrik tersebut
dengan bahan bakar yang ramah lingkungan. Pihak pabrik juga diharuskan untuk
mengolah limbahnya terlebih dahulu sebelum melepaskannya k udara, untuk
mengurangi tingkat racun yang berasal dari polusi pabrik tersebut. Pihak pabrik
juga tidak diperbolehkan untuk membuka cabang baru di sekitar pemukiman warga
lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Budiyono, A.
2001. DAMPAK PENCEMARAN UDARA PADA LINGKUNGAN. Vol,2. No,1.
[Online]http://www.jurnal.lapan.go.id/index.php/berita_dirgantara/article/viewFile/687/605. (Diakses pada 6 Januari 2018)
Chandra,B. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta:
EGC.
Dalton, J. H.,
Maurice J. E., Abraham W. (2007). Community
Psychology Lingking Individuals
and Communities. Second Edition.
USA: Thomson Wadsworth.
Ratnani,D.R.
2008. TEHNIK PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA YANG DIAKIBATKAN OLEH PARTIKEL.
Semarang: Jurnal Momentum. Vol,4. No,2.
[Online]https://media.neliti.com/media/publications/114195-ID-none.pdf. (Diakses pada 4 Januari 2018)
Sugiarti. 2009.
GAS PENCEMAR UDARA DAN PENGARUHNYA BAGI KESEHATAN MANUSIA. Makasar:
Jurnal Chemical. Vol,10. No,1.
[Online]https://ojs.unm.ac.id/index.php/chemica/article/download/399/pdf. (Diakses pada 4 Januari 2018)
Wardhana,W.A.
2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Harus peduli lingkungan yakan min
BalasHapusBagus artikelnya bisa jado cerminan diri ini until bisa lebih peduli terhadap lingkungan
BalasHapusbetul seklai, lingkungan no 1
BalasHapusGo green, better life
BalasHapusTerima kasih min infonya. Ditunggu pos selanjutnya ya. Semangat
BalasHapusnice min
BalasHapusTerima kasih infonyaaa :))
BalasHapuskren min
BalasHapusmakasi infonya kendaall
BalasHapusMksh infonya min
BalasHapusSungguh bermanfaat
BalasHapusIzin share ya min..
BalasHapusIzin share ya min..
BalasHapus